Banyumanis, 16 Oktober 2025 — Prestasi membanggakan datang dari SDN 2 Banyumanis, sebuah sekolah dasar negeri yang terletak di Kecamatan Tulis, Kabupaten Batang, Jawa Tengah. Tiga siswa kelas VI berhasil menembus babak final Kompetisi Karya Ilmiah Nasional tingkat SD, sebuah pencapaian luar biasa yang tidak hanya mengharumkan nama sekolah, tetapi juga menjadi inspirasi bagi siswa-siswa lainnya di pelosok negeri. https://sdn2banyumanis.com/

Karya ilmiah yang berjudul “Pemanfaatan Daun Kelor sebagai Pewarna Alami Ramah Lingkungan untuk Batik Tradisional” tersebut berhasil lolos seleksi ketat yang diikuti oleh ratusan sekolah dari seluruh Indonesia. Tim SDN 2 Banyumanis yang terdiri dari Anisa Rahmawati, Dimas Prasetyo, dan Luthfi Fauzan, menyusun karya ilmiah itu dengan bimbingan guru IPA mereka, Ibu Lestari Wulandari, S.Pd.

Berangkat dari Potensi Lokal

Ide penelitian ini muncul dari keprihatinan mereka terhadap penggunaan pewarna kimia dalam proses membatik yang dapat mencemari lingkungan. Sebagai siswa yang tinggal di desa dengan tradisi membatik, mereka melihat langsung dampak limbah pewarna terhadap air sungai di sekitarnya. Dari situlah muncul ide untuk mencari alternatif pewarna alami yang lebih ramah lingkungan.

Setelah melakukan observasi dan serangkaian percobaan, mereka menemukan bahwa daun kelor yang banyak tumbuh di lingkungan sekitar ternyata bisa menghasilkan warna hijau alami yang cukup kuat dan tahan lama pada kain. Selain itu, daun kelor juga memiliki kandungan antioksidan tinggi, yang memberi nilai tambah dari sisi kesehatan.

“Awalnya kami hanya coba-coba merebus daun kelor dan mencelupkan kain putih. Ternyata warnanya keluar dan tidak mudah luntur. Setelah beberapa kali uji coba, kami yakin hasil ini bisa digunakan untuk membatik,” ujar Anisa, salah satu anggota tim.

Bimbingan Intensif dan Dukungan Sekolah

Kepala SDN 2 Banyumanis, Bapak Sugeng Riyadi, S.Pd., mengungkapkan rasa bangganya atas prestasi anak didiknya. Ia menyampaikan bahwa sekolah memang sejak lama memberikan ruang untuk kreativitas dan penelitian sederhana bagi para siswanya, meski dengan fasilitas yang terbatas.

“Prestasi ini menunjukkan bahwa keterbatasan bukan halangan untuk berinovasi. Kami mendukung penuh kegiatan seperti ini karena bisa melatih cara berpikir kritis dan peduli lingkungan sejak dini,” ungkapnya.

Bimbingan dilakukan secara intensif setiap sore setelah jam pelajaran, termasuk simulasi presentasi dan penyusunan laporan ilmiah sesuai standar kompetisi nasional. Dengan semangat dan kerja keras, akhirnya karya mereka dinyatakan layak maju ke tahap nasional yang akan dilaksanakan di Jakarta bulan depan.

Membangun Generasi Peneliti Sejak Usia Dini

Kompetisi Karya Ilmiah Nasional yang diikuti siswa SDN 2 Banyumanis ini diselenggarakan oleh Kementerian Pendidikan, Kebudayaan, Riset, dan Teknologi (Kemendikbudristek) sebagai bagian dari upaya menumbuhkan minat riset di kalangan pelajar sejak usia dini.

Panitia menyatakan bahwa karya siswa SDN 2 Banyumanis menonjol karena tidak hanya menyentuh aspek ilmiah, tetapi juga relevansi sosial dan budaya lokal.

“Pemanfaatan bahan lokal, seperti daun kelor, menunjukkan kepekaan mereka terhadap lingkungan sekitar dan potensi yang dimiliki. Ini contoh konkret penerapan sains dalam kehidupan sehari-hari,” ujar salah satu juri kompetisi.

Harapan dan Langkah Selanjutnya

Para siswa dan pihak sekolah berharap karya mereka tidak hanya berhenti sebagai proyek kompetisi, tetapi bisa dikembangkan lebih lanjut, bahkan diaplikasikan oleh para pengrajin batik lokal. Ke depan, SDN 2 Banyumanis berencana bekerja sama dengan UMKM setempat untuk uji coba penggunaan pewarna alami tersebut secara lebih luas.

“Saya ingin kelak bisa jadi peneliti sungguhan,” kata Luthfi, dengan semangat. Harapan serupa juga disampaikan oleh Anisa dan Dimas, yang kini semakin termotivasi untuk terus belajar dan menciptakan inovasi.

Prestasi siswa SDN 2 Banyumanis ini membuktikan bahwa semangat meneliti dan berkarya tidak mengenal usia maupun lokasi. Dari desa kecil di Batang, lahir ide besar yang bisa berdampak luas bagi lingkungan dan kebudayaan bangsa.